Weaning With Love

Valiant Elfano Fajareyhan
9 Juni 2018

Berawal dari perbincangan sebelum tidur, dan sounding berulang sejak berbulan-bulan yang lalu..

Valiant tipe anak yang suka bertanya banyak hal terhadap hal yang dia senangi, hal yang dia anggap menarik, terutama yang menyangkut dengan dirinya sendiri. Termasuk juga tentang anatomi manusia (dia sendiri) Vs anatomi hewan, jika sudah tertarik sesuatu, dia bakal bertanya banyak hal, bahkan pertanyaannya kadang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Suatu malam menjelang tidur, Valiant bergurau dengan saya, dia menggigit tangan saya, dan saya langsung reflek berkata “aduh, sakit dek.. gigi adek kuat lo, kalau nggigit sakit” lalu dia berulang-ulang mencoba menggigit lagi dengan bergurau.

Hingga akhirnya saya memperagakan gigi kuat dengan mengetuk gigi saya sendiri dengan kuku, hingga berbunyi “tok tok”, Valiant pun menirukan. Mendengan bunyi “tok tok” dari giginya, dia sangat senang, dan mengulang berkali-kali sembari tertawa lepas dan berkata “gigi adek bunyi tok tok mama, gigi adek kuat, gigi mama kuat”. Saya jawab “iya dek, gigi adek itu sudah kuat banget.. sama seperti gigi mama, gigi mas Fael, gigi papa. Makanya kalau adek nenen mama, mama ngerasa sakit lo dek.. seperti kalau adek nggigit tangan mama tadi.. sakit..”. Valiant bertanya “gigit sakit? Gigi kuat?”. Saya jawab “adek mau tau rasanya kalau kena gigit? Biar tau gigi kuat tu seperti apa ya..” saya arahkan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam mulutnya, lalu saya minta dia menggigit jarinya sendiri seperti saat dia menggigit tangan saya, dia pun mengeluh sakit. Saya tersenyum dan berkata “sakit kan? Ya gitu rasanya digigit dek..coba pegang jarimu, jari adek ini keras lo.. nenen mama lebih sakit kena gigi adek, soalnya nenen mama nda sekeras jari adek”.

Valiant diam dan memandang jarinya lalu berkata “nenen mama sakit? Gigi adek kuat? Tok tok”, saya jawab “iya sayang, gigi adek tuh kuatttt banget.. adek sudah bisa makan biskuit, ayam, daging. Hebat looo.. sudah kuat banget giginya.. jadi sakitttt kalau kena gigit adek, apalagi nenennya mama, sakitttt..”. Valiany serius mendengarkan, “tapi mama sayang sama adek.. kalau adek nenen, mama tahan sakitnya sayang”

Berulang-ulang perbincangan senada, Valiant tiba2 diam menerawang, dan bicara seolah untuk dirinya sendiri, “nenen mama sakit, gigi adek kuat, tok tok” .. saya tidak berkata apa-apa.. hanya menatap wajahnya sambil tersenyum, dan mengelus kepalanya, lalu dia minta selimut. Selimut yang dipakai bergambar Madagascar, ada zebra, kudanil, singa, jerapah, yang semuanya sedang tersenyum lebar hingga giginya terlihat.

“Gigi eba kuat? (zebra), gigi inga kuat? (singa), gigi apah kuat? (jerapah)” saya jawab sambil senyum “iya, kuat banget, sama kayak adek”. Valiant menunjuk kembali gambar si selimutnya, satu persatu, “eba nenen akit? Inga nenen akit? apah nenen akit? Kudanil nenen akit?”, “Iya dek, nenen mama zebra sakit, mama jerapah, mama singa, mama kudanil juga.. semuanya sakit kalo anak-anaknya yang giginya sudah kuat masih nenen, makanya anaknya sudah ndak nenen, minum air aja”.

Diam berfikir, Valiant mendengar suara tokek, lalu berkata lagi, “tokek nenen akit?” “Iya dek, tokek nda nenen mamanya soalnya giginya sudah kuat”

Sampai akhirnya Valiant sangat mengantuk, dan ingin mulai tidur, menghadap ke arah saya, lalu bilang “mama nenen” lalu diam dan kemudian berkata lagi “nenen mama sakit iya? Gigi adek kuat tok tok iya?” Saya menjawab dengan mengangguk. Dia memalingkan badannya, dan mengetuk giginya beberapa kali, lalu minta minum air. Saya mengambilkan minum dengan gelas plastik, saat selesai minum, saya mengetuk tepi gelas tersebut dan berkata “kalau gelas ini kuat dek, ni bunyi tok tok juga kl di ketuk” dia menirukan dan tertawa “gelas kuat iya? Tok tok” saya jawab “iya dek, gelas ini keras, kuat, jadi kalau kena gigi adek, gelas nda sakit”, lalu dia merebahkan kembali badannya, memeluk guling dan diam.

“Mama nenen..”, saya jawab dengan pasang wajah agak terkejut, “ndapapa sini nenen, mama sayang adek, walau nenennya mama sakit kena gigi adek yg kuat, mama tahan, karena mama sayaaaaang banget sama adek” (sambil nyodorkan nenen). Tiba-tiba.. wajahnya sangat sedih, mulutnya berkata sambil menangan air mata “mama tutup nenen, nenen mama sakit, tutup mama, tutup nenen” dia menangis dengan terisak, tanpa suara, sambil menatap dada saya, lalu minta cium, minta adu hidung, minta peluk, adu dahi, cium lagi, memalingkan badannya sambil terisak tanpa suara, minta punggungnya di oles lotion dan di elus-elus, lalu tertidur..

Saya berbisik di telinganya, “makasi sayang.. makasi adek sudah sayang banget sama mama.. makasi adek sudah nda mau nenen mama sakit.. adek nda nenen lagi bukan berarti mama nda sayang adek.. tapi mama makinnnnn sayang bangetttt sama adek.. mama selalu disini peluk adek.. anak mama hebat..anak sholeh..penyayang.. mama bangga sama adek.. bismillah ya sayang.. kita belajar sama-sama..”

Inilah awal dari keputusan Valiant..

Inilah awal dari perang batin selama beberapa hari kedepan untuk belajar mulai tidur tanpa nenen, untuk belajar beradaptasi.

Dan awal dari ujian kekuatan bagi hati saya, karena sejujurnya saya belum siap menghadapi masa weaning kembali.

Saya harus belajar ikhlas menerima keputusan anak saya..

Advertisements

Anak-anakku

Read the rest of this entry »

« Older entries